Sejarah Penemuan Dan Perkembangan Teknologi Akustik di Indonesia
1.
Pengertian
Akustik
Akustik adalah teori
tentang gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium. Akustik kelautan
yang dalam bahasa inggrisnya disebut “marine acoustic” adalah teori
tentang perambatan gelombang suara dan perambatannya dalam medium air laut.
Akustik merupakan teori yang membahas tentang gelombang suara dan perambatannya
dalam suatu medium. Sedangkan akustik kelautan adalah teori yang membahas
tentang gelombang suara dan perambantannya dalam suatu medium air laut. Akustik
kelautan merupakan satu bidang kelautan yang umendeteksi target di kolom perairan dan dasar perairan
dengan menggunakan suara sebagai mediannya (FAO, 1984).
Akustik
merupakan ilmu yang membahas tentang gelombang suara dan perambatannya dalam
suatu medium. Jadi, akustik kelautan adalah ilmu yang mempelajari tentang
gelombang suara dan penjalarannya (perambatannya) dalam medium air laut
(terjadi di kolom air). Akustik kelautan merupakan suatu bidang kelautan untuk
mendeteksi target di kolom perairan dan dasar peairan menggunakan gelombang
suara. Dengan pengaplikasian akustik kelautan akan mempermudah peneliti untuk
mengetahui objek yang ada di kolom perairan dan dasar perairan baik berupa
plankton, ikan, kandungan substrat dan adanya kapal kandas (McLennan dan Simmonds, 1992).
Studi kelautan dengan
menggunakan akustik sangat membantu peneliti untuk mengetahui objek yang berada
di kolom dan dasar perairan. Teknologi dalam bidang kelautan dapat digunakan
untuk memudahkan manusia dalam mengeksplorasi sumber daya kelautan selain itu
dengan adanya teknologi dapat menentukan keselamatan dan kewaspadaan terhadap
kondisi perairan laut yang bisa ditentukan secara pasti. Penggunaan teknologi
juga membantu para peneliti untuk menentukan parameter, dan objek dengan lebih
tepat (Tim penyusun, 2013).
2. Sejarah Perkembangan Akustik
Sejarah perkembangan akustik
kelautan dimulai sekitar tahun 1490 berasal dari catatan harian Leonardo da
vinci yang menuliskan “Dengan menempatkan
ujung pipa yang panjang didalam laut dan ujung lainnya di telinga anda, dapat
mendengarkan kapal-kapal laut dari kejauhan”. Ini mengindikasikan bahwa
suara dapat berpropagasi di dalam air. Ini yang disebut dengan Sonar Pasif (Passive Sonar) karena kita hanya
mendengar suara yang ada.
Pada abad ke 19, Jacques and Pierre
Currie menemukan piezoelectricity, sejenis Kristal yang dapat membangkitkan
arus listrik jika Kristal tersebut ditekan, atau jika sebaliknya jika Kristal
tersebut dialiri arus listrik maka Kristal akan mengalami tekanan yang akan
menimbulkan perubahan tekanan di permukaan Kristal yang bersentuhan dengan air.
Selanjutnya sinyal suara akan berpropagansi didalam air. Ini yang selanjutnya
disebut Sonar Aktif (Active Sonar).
Perkembangan akustik yang sangat
pesat pada saat Perang Dunia pertama terutama digunakan untuk pendeteksian
kapal-kapal selam yang ada dibawah laut. Pendeteksian ini menggunakan 12
hydrophone (yang setara dengan microphone untuk penggunaan didarat) yang
diletakkan memanjang di bawah kapal laut untuk mendengarkan sinyal suara ang
berasal dari kapal selam. Setelah Perang Dunia I, perkembangan akustik kelautan
cenderung stagnan dikarenakan pada saat itu belum adanya perkembangan lebih
lanjut dan penggunaan akustik kelautan lebih difokuskan untuk keperluan
militer. Pada saat Perang Dunia di mulai penggunaan akustik kembali berkembang
dengan pesat. Penggunaan torpedo yang menggunakan sinyal akustik untuk mencari
kapal musuh adalah penemuan yang hebat pada jaman itu.
Setelah selesainya Perang Dunia II,
akustik tidak hanya digunakan untuk keperluan militer saja, tetapi akustik
banyak digunakan untuk keperluan non-militer diantaranya mempelajari proses
perambatan suara didalam medium air, penelitian sifat-sifat akustik dari air
dan benda-benda bawah air, pengamatan, benda-benda dari echo yang mereka
hasilkan, pendeteksian sumber-sumber suara bawah air, komunikasi dan penetapan
posisi dengan alat akustik bawah air.
Pada decade tahun ketujuhpuluhan
barulah secara intensif diterapkan dalam pendeteksian dan pendugaan stok ikan,
yakni dengan dikembangkannya analog
echo-integrator dan echo counter.
Perkembangan yang menyolok ini tidak hanya di Inggris tetapi juga di Norwegia,
Amerika, Jepang, Jerman, dan sebagainya.
Kemudian setelah diketemukan digital echo integrator dual beam acoustic
system, split beam acousticsystem, quasy ideal beam system, dan aneka echo processor canggih lainnya, barulah
ketelitian dan ketepatan pendugaan stok ikan dapat ditingkatkan sehingga
akhir-akhir ini peralatan akustik menjadi peralatan standar dalam pendugaan
stok ikan dan menejeman semberdaya ikan.
Seperti kita ketahui bahwa alat
akustik merupakan salah satu alat yang dapat mendeteksi kedalaman dan
keberadaan suatu benda yang ada di bawah permukaan laut salah satunya adalah
iakn dan biota lainnya. Alat ini merupakan peralatan pendukung untuk para
nelayan yang menangkap ikan di lautan. Teknologi akustik merupakan metode yang
sangat efektif dan bermanfaat bagi eksplorasi di bidang kelautan dan perikanan
sekarang ini. Metode ini dikenal dengan Hidroakustik yang terdiri dari pengukuran,
analisis, dan intrepretasi dari sinyal yang dipantulkan oleh objek atau
scattering dari target yang dikenai gelombang akustik dari tranduser atau alat
hidroakustik. Objek tersebut berupa ikan, plankton, dan substrat dasar
perairan. Secara garus besar penggunaan akustik bawah air dalam kelautan dan
perikanan dapat dikelompokkan menjadi lima yakni:
·
Untuk survey
·
Budidaya
perairan
·
Penelitian
tingkah laku ikan
·
Selektifitas
alat-alat penangkap ikan
Pada saat sekarang ilmu akustik di
manfaatkan untuk aplikasi dalam survey kelautan, budidaya perairan, penelitian
tingkah laku ikan, aplikasi dalam studi penampilan dan selektivitas alat
tangkap, bioakustik. Aplikasi dalam survey kelautan, dengan akustik kita dapat
menduga spesies ikan yang ada di daerah tertentu dengan menggunakan pantulan
dari suara, semua spesies mempunyai target strength yang berbeda-beda. Aplikasi
dalam dunia budidaya untuk pendugaan jumlah ikan, biomassa dari ikan dalam
jarring pembesaran untuk menduga ukuran dari individu ikan dalam jarring
kurungan memantau tingkah laku ikan dengan acoustic
tagging.
Salah satu contoh alat akustik
kelautan yang sering digunakan saat ini secara global ataupun di Indonesia
sendiri dalam bidang kelautan ini sendiri adalah Sonar (Sound Navigation and Ranging) adalah sistem penginderaan bawah air
dengan menggunakan gelombang suara (akustik). Penginderaan bawah air sangat
banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi lainnya, terutama teknologi sensor,
elektronika dan microprocessor. Alat ini dikembangkan untuk berbagai aplikasi
misalnya untuk peralatan dasar laut, perikanan dan sebagainya. Penerapan
teknologi akustik bawah air untuk eksplorasi sumberdaya non-hayati laut yaitu:
· Pengukuran
Kedalaman Dasar Laut (Bathymetry)
· Pengindentifikasian
Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut (Sub
bottom Profiles)
· Pemataan
Dasar Laut (Sea Bed Mapping)
· Pencarian
Kapal-kapal karam didasar laut
· Penentuan
jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut
· Analisis
Dampak Lingkungan di Dasar Laut
3.
Perkembangan
Teknologi Akustik di Indonesia
Perkembangan
teknologi akustik terus berkembang pesat di berbagai Negara, begitu juga di
Indonesia. Dan salah satunya yaitu berkembang di bidang navigasi dan
kedokteran. Pada bidang navigasi ini salah satu teknologi yang sangat pesat
perkembanganya adalah penggunaan Drone. Drone atau sering disebut dengan UAV
atau Unmanned Aerial Vehicle merupakan pesawat tanpa awak yang menjadi
salah satu teknologi perkembangan pesat di dunia terutama di Indonesia. Tidak
hanya dimanfaatkan dalam dunia militer, drone juga dapat digunakan dalam
berbagai bidang kehidupan, seperti kesehatan, pertanian, dan bahkan untuk
pengiriman barang. Drone dilengkapi dengan keadaan yang berbeda dari teknologi
seni seperti infra-merah kamera (UAV militer), GPS dan laser. Cara kerja
drone yaitu memanfaatkan kendali jarak jauh atau sistem remote dimana pilot memegang kontrol
dari darat. Selain itu, drone dapat di kontrol menggunakan smartphone karena drone memiliki chip komputer serupa arduino namun lebih kompleks. Chip ini
membuat drone dapat mengolah gambar dari kamera yang terpasang padanya kemudian
mengirimkan hasilnya ke smartphone yang
digunakan sebagai kontrol.
Sedangkan
di bidang komunikasi yang pada pada zaman dahulu alat-alat komunikasi masih
belum berkembang. Orang dahulu menggunakan alat yang sederhana sebagai alat
komunikasi yang salah satu contohnya seperti menggunakan kentongan bambu untuk
memanggil masyarakat agar berkumpul dalam suatu tempat atau dengan menggunakan
metode surat menyurat untuk mengetahui kabar. Pada zaman pengaruh budaya Islam
bedug digunakan sebagai alat komunikasi dan petunjuk waktu. Sedangkan
orang-orang Yunani mengembangkan telegraf optik dengan menggunakan api obor
diatas benteng. Huruf-huruf dikirim dengan mengkombinasikan beberapa api obor
tersebut. Dalam perkembangan berikutnya, radio ditemukan oleh clark maxwell
pada 1816 edwin H. Armstron (1930) menemukan radio transistor. Radio transistor
kemudian berkembang keseluruh dunia termasuk di Indonesia. Pada 1940-an
berdirilah stasiun pemancar RRI Jakarta dan sejak saat itu, berita dapat
disebarluaskan melalui siaran radio RRI. Selanjutnya ditemukan pula telepon,
televisi dan sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD). Penemuan teknologi alat komunikasi menyebabkan perhubungan
antar manusia, antar daerah dan antar negara menjadi cepat dan mudah dilakukan.
Dan sekarang hampir disetiap keluarga di Indonesia dapat menggunakan teknologi
akustik tersebut dengan mudah mulai dari televisi, radio dan telepon dan lain
sebagainya.
4. Aplikasi
Akustik di Bidang Kelautan
Teknologi akustik bawah air memanfaatkan sifat gelombang suara yang
merambat sangat baik dalam medium air. Dalam air laut yang bersifat konduktif
dan keruh kebanyakan gelombang elektromagnetik (gelombang cahaya dan radio)
akan berkurang energinya (teratenuasi) dengan cepat dalam jarak beberapa ratus
bahkan puluh meter saja. Jika penetrasi cahaya praktis hanya dapat mencapai
beberapa puluh meter di bawah lapisan permukaan, maka gelombang suara dapat
mencapai dasar laut sampai kedalaman ribuan meter. Selain itu gelombang
suara dapat merambat dalam air puluhan ribu meter melintasi
samudera luas.
Teknologi akustik bawah air menggunakan instrumen yang dilengkapi dengan
transduser, piranti yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi mekanik
dan sebaliknya, sehingga dapat memancarkan dan menerima suara. Instrumen
akustik berkembang seiring dengan perkembangan ilmu bahan, yang menghasilkan
transduser berkualitas. Pada awalnya transduser dibuat dari bahan kuartz
elektrostriktif kemudian digantikan oleh magnetostriktif yang berbahan dasar
nikel, dan akhirnya berbahan piezoelektrik. Selanjutnya, transduser berberkas
gelombang suara tunggal (single-beam) berkembang menjadi dual-beam dan
akhirnya split-beam dari frekuensi tunggal menjadi frekuensi ganda
(multi-frequency). Untuk meningkatkan ketajaman (sensitivitas) deteksi
transduser, dikembang sistem untaian (array) yang merajut rangkaian transduser
tunggal menjadi satu kesatuan dan kemudian diikuti dengan pengembangan
teknologi pembentukan berkas gelombang (beamforming). Demikian pula dari sisi
pemindaian (scanning), telah dikembangkan side scan sonar. Gabungan dari
frekensi berganda dan sistem side scan ini melahirkan sistem berkas gelombang
suara berganda (multibeamsystem) yang sangat tajam mendeteksi kontur dasar
perairan.
Alat akustik juga merupakan salah satu alat yang dapat mendeteksi
kedalaman dan keberadaan suatu benda yang ada di bawah permukaan laut
salah satunya adalah ikan dan biota-biota lainnya. Alat ini merupakan peralatan
pendukung untuk para nelayan yang menangkap ikan di lautan. Teknologi ini
merupakan metode yang sangat efektif dan bermanfaat bagi eksplorasi
di bidang kelautan dan perikanan. Metode ini dikenal dengan Hidroakustik yang
terdiri dari pengukuran, analisis, dan interpretasi dari signal yang
dipantulkan oleh objek atau scattering dari target yang dikenai gelombang
akustik dari tranduser atau alat hidroakustik, objek tersebut berupa
ikan, plankton, dan substrat dasar perairan. Secara garis besar pengunaan
akustik bawah air dalam kelautan dan perikanan dapat dikelompokkan menjadi 5
yakni:
1.Untuk
survey
2.Budidaya
perairan
3.Penelitian
tingkah laku ikan
4.Mempelajari
penampilan
5.Selektifitas
alat-alat penangkapan ikan
Dalam survey kelautan dapat digunakan untuk mengetahui spesies ikan,
mengetahui ukuran individu ikan, kelimpahan/stok sumberdaya hayati laut
(plankton dan ikan). Aplikasi dalam budidaya perairan dapat digunakan dalam
penentuan/pendugaan jumlah biomassa dari ikan dalam jaring atau kurungan
pembesaran (penned fish/enclosure), untuk menduga ukuran individu ikan dalam
jaring dan untuk memantau tingkah laku ikan (dengan telemetering tags), khususnya
aktifitas makan (feeding activity).
Akustik kelautan berkaitan dengan berbagai materi, diantaranya:
1.
Echosounder
Echosounder merupakan salah satu alat yang penting untuk mengetahui
kedalaman laut. Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara
pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim Side-Scan
Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar
laut (Sea Bed Mapping) dan
pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen dibawah dasar laut (subbottom profilers).
2. Fish
Finder
Fish Finder bekerja berdasarkan pemantulkan gelombang suara yang
dipancarkan dari permukaan perairan sampai dasar lautan. Ketika bunyi yang dipancarkan
kedasar lautan tersebut membentur suatu benda dan kembali ke penerima sonar,
maka jaraknya yang ditempuh oleh bunyi tersebut dapat diukur, maka dapat
diketahui letak benda tersebut dibawah permukaan laut.
3. Acoustic
Doppler Current Profiler (ADCP)
Prinsip kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal
maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial
relatif, antara instrumen (alat) dan hamburan di laut. Tiga beam akustik yang berbeda
arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam ke
empat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP
mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap
detik. Echo yang tiba kembali ke instrumen tersebut melebihi dari periode
tambahan, dengan echo dari perairan dangkal tiba lebih dulu daripada echo yang
berasal dari kisaran yang lebih lebar. Profil dasar laut dihasilkan dari
kisaran yang didapat. Pada akhirnya, kecepatan relatif, dan parameter lainnya
dikumpulkan diatas kapal menggunakan Data Acquisition System (DAS) yang juga
secara optional merekam informasi navigasi, yang diproduksi oleh GPS.
Referensi :
Iskandarsyah, Mochamad. 2011. Pemetaan Shadow
Zone Akustik dengan Metode Parabolic Equatio di Wilayah Perairan
Selat Lombok. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK-IPB :
Bogor.
Komentar
Posting Komentar