PENANGANAN PERUBAHAN GARIS PANTAI PULAU BENGKOANG, JAWA TENGAH
Pulau Bengkoang, Jawa Tengah.
Secara administratif pulau yang
tidak berpenduduk dengan luas 105 Ha ini termasuk dalam wilayah Desa Kemujan Kecamatan
Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, yang secara geografis
terletak pada 50°44’24” LS dan 110°24’28” BT.
Secara
admistratif, Pulau Bengkoang berbatasan dengan:
-
Sebelah Timur dengan Laut Jawa
-
Sebelah Barat dengan Laut Jawa
-
Sebelah Utara dengan Laut Jawa
-
Sebelah Selatan dengan Pulau
Karimunjawa.
Gambar
1. Kenampakan Pulau Bengkoang, JawaTengah.
Pulau Bengkoang masuk dalam kawasan
Balai Taman Nasional Karimunjawa berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. SK. 79/IV/Set.3/2005 tentang REVISI
ZONASI/MINTAKAT TAMAN NASIONAL Tanggal 30 Juni 2005. Kementrian Kehutanan
menetapkan kawasan Pulau Bengkoang bagian Selatan termasuk dalam Zona/Mintakat
kawasan Pemanfaatan Wisata Bahari, sehingga pemanfaatan dan pengembangan pulau
ini harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari BTN Karimunjawa.
Aksebilitas menuju Pulau ini dari
Kabupaten Jepara dapat ditempuh dengan menggunakan kapal ferry atau kapal cepat
dengan jadwal regular melalui jalur Pelabuhan Kartini menuju Pulau Karimunjawa
dengan waktu tempuh 6 jam untuk Ferry dan 2 jam untuk kapal cepat. Selanjutnya
dari Pulau Karimunjawa perjalanan dilanjutkan dengan perahu nelayan atau kapal
sewaan dengan waktu tempuh selama 1 jam.
Dalam Peta Perubahan Garis Pantai Pulau
Bengkoang yang dianalisis tahun 2004 dan 2013 terlihat perubahan garis pantai yang
cukup signifikan, hal ini dikarenakan lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu
mengalami perubahan, karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua
kekuatan, yaitu berasal dari daratan dan lautan. Perubahan lingkungan pantai
dapat terjadi secara lambat hingga sangat cepat, tergantung pada imbang daya
antara topografi, batuan dan sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan
angin. Perubahan pantai terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada
suatu segmen pantai melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses
geomorfologi tersebut sebagai akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti
faktor geologi, geomorfologi, iklim, biotik, pasang surut, gelombang, arus laut
dan salinitas.
Gambar 3. Peta Perubahan Garis
Pantai
Garis Pantai Pulau Bengkoang,
Karimunjawa mengalami perubahan karena terjadinya proses abrasi dan
sedimentasi. Abrasi adalah
proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. sedangkan, sedimentasi merupakan sebuah peristiwa atau proses pengendapan yang terjadi pada beberapa komponen abiotik yang ada di lingkungan seperti halnya tanah dan juga pasir. dilihat dari petas perubahan garis pantai 2004 dan 2013 daerah yang mengalami abrasi berada pada sisi Utara hingga sisi Barat. sedangkan daerah yang mengalami sedimentasi bedara pada sisi Timur Laut hingga ke Barat Daya. maka, seiring dengan berjalannya waktu Pulau Bengkoang akan terus mengalami perubahan garis pantai baik itu karena proses abrasi ataupun sedimentas.
Dari pengamatan terhadap perubahan garis pantai pulau bengkoang, 5-10 tahun yang akan datang pulau bengkoang akan mengalami abrasi, hal ini dikarenakan oleh dampak pemanasan global tersebut semakin menyempit disebabkan oleh kenaikan muka air laut. Tanda-tanda pemanasan global di Indonesia sudah tampak jelas. sepanjang tahun 1980-2002 suhu minimum kota Polania (Sumatra Utara) meningkat 0,17C pertahun. sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87VC pertahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu Gunung Jayawijaya di Papua. Sedangkan yang paling mencolok adalah perubahan iklim.
Dari pengamatan terhadap perubahan garis pantai pulau bengkoang, 5-10 tahun yang akan datang pulau bengkoang akan mengalami abrasi, hal ini dikarenakan oleh dampak pemanasan global tersebut semakin menyempit disebabkan oleh kenaikan muka air laut. Tanda-tanda pemanasan global di Indonesia sudah tampak jelas. sepanjang tahun 1980-2002 suhu minimum kota Polania (Sumatra Utara) meningkat 0,17C pertahun. sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87VC pertahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu Gunung Jayawijaya di Papua. Sedangkan yang paling mencolok adalah perubahan iklim.
Gambar 4. Penanganan Perubahan Garis Pantai
Keterangan:
Sebagai pulau yang dilindungi
dengan estimasi wisata bahari yang dilindungi, sangat disayangkan jika pulau
bengkoang terus mengalami penyempitan luasan akibat dari adanya proses abrasi.
Maka untuk menanggulangi proses abrasi tersebut hendaknya masyarakat daerah
atau pihak bersangkutan segera melakukan mencegahan dengan membangun Break Water, yang
dibuat terpisah ke arah lepas
pantai, tetapi masih di dalam zona gelombang pecah. Bagian sisi luar pemecah
gelombang memberikan perlindungan dengan meredam energi gelombang sehingga
gelombang dan arus di belakangnya dapat dikurangi. Pantai di belakang struktur
akan stabil dengan terbentuknya endapan sedimen sehingga terbentuknya tombolo.
Pencegahan
abrasi dengan membangun pemecah gelombang buatan di sekitar pantai dengan
maksud untuk mengurangi abrasi yang terjadi tanpa dibarengi dengan usaha
konservasi ekosistem pantai seperti penanaman bakau. Seperti yang diketahui
Pulau Bengkoang adalah sebuah pulau wisata bahari, maka dengan penamanan
mangrove dikawasan pulau akan menambah nilai wisatanya. Fungsi dari hutan bakau selain
sebagai tempat wisata dan penghasil kayu adalah sebagai peredam gelombang dan
angin badai, pelindung erosi, penahan lumpur dan penangkap sedimen.
Selain mencegah atau mengatasi abrasi,
hutan bakau dapat membawa keuntungan-keuntungan lebih daripada hanya sekedar
membangun pemecah gelombang buatan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain:
1.
Menjaga kestabilan garis pantai.
2. Menahan atau menyerap tiupan angin
laut yang kencang.
3.
Dapat mengurangi resiko dampak dari tsunami.
4. Membantu
proses pengendapan lumpur sehingga kualitas air laut lebih terjaga dari endapan
lumpur erosi.
5. Menghasilkan oksigen yang bermanfaat
bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.
6.
Mengurangi polusi, baik udara maupun air.
7.
Sumber plasma nutfah.
8.
Menjaga keseimbangan alam.
9. Sebagai habitat alami makhluk hidup
seperti burung, kepiting, dan lain sebagainya.
Beberapa hal di atas merupakan sebagian
dari berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dari penanaman hutan bakau dalam
usaha mencegah atau mengatasi abrasi. Selain itu pemerintah tidak perlu lagi
berulang kali membangun pemecah gelombang sehingga dapat menghemat pengeluaran
dan dapat mengalokasikan dana untuk keperluan-keperluan lain (tentunya yang
berguna untuk masyarakat).



Komentar
Posting Komentar